วันศุกร์ที่ 22 กุมภาพันธ์ พ.ศ. 2556

KONDISI PENDIDIKAN ISLAM SELATAN THAILAND DIMATA UMAT ISLAM DUNIA



Masyarakat Patani merasa aksi kekerasan dan tuduhan yang dilakukan oleh Pemerintah Thailand ini sebagai usaha menindas hak pendidikan yang harus didapat oleh Masyarakat Patani.


Daerah Selatan Thailand meliputi Provinsi Yala, Pattani, Narathiwat, Setul dan Songkla mayoritas penduduknya beragama Islam etnis Melayu.
Semenjak terjadinya kekerasan di wilayah ini mulai dari tahun 2004 sampai saat sekarang, sepertinya tidak ada memberikan tanda – tanda akan berakhir, tapi justru malah semakin meningkat, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh DEEP SOUTH WACH ( DSW ) sebuah badan pemantau keadaan di wilayah sempadan selatan, terdapat 5712 orang korban tewas dan lebih 10.000 orang terluka.
Ini belum lagi kebijakan tembak di tempat yang dikeluarkan oleh Thaksin untuk para pengedar dadah atau narkoba. Ribuan orang telah menjadi korban pembunuhan ala petrus atau penembak misterius seperti terjadi di Indonesia periode 1970-an.
Keadaan ini tidak bisa dilepaskan dari faktor Internal Colonialisation “ antara British ( Inggris ) dan Siam ( Thailand ) dalam sebuah perjanjian Anglo Siamese tahun 1909 , yang menjadikan wilayah Selatan Thailand sebagai bagian dari wilayah Negara Siam ( Thailand ) hal ini memicu munculnya kelompok – kelompok Pejuang yang merasa hak mereka dirampas untuk melakukan perlawanan merebut kembali hak – hak mereka.
Faktor ini bukan satu – satunya penyebab terjadinya konflik senjata antara pejuang Selatan Thailand dengan pemerintah Siam ( Thailand ), akan tetapi sikap diskriminatif pemerintah terhadap umat Islam ( etnis Melayu ) dengan etnis Siam ( beragama Budha ), serta ketidak adilan, pembangunan yang tidak merata, sehingga selatan Thailand jauh tertinggal dibandingkan dengan wilayah – wilayah lainnya.
Akibat konflik ini yang kemudian berlanjut kepada konflik senjata antara militer Thailand dengan pejuang – pejuang Islam tidak bias dihindari, konsekwensinya banyak di antara para ulama ( pemuka agama Islam ),ustadz – ustadz, guru dan para Mahasiswa yang menerima perlakuan buruk dari pemerintah, bahkan di antara mereka ditangkap dan disiksa tanpa melalui peradilan.
Nestapa Muslim Selatan Thailand : Ulama, Ustadz, guru dan para Mahasiswa dan Pelajar muslim ditangkap dan lembaga pendidikan Islam ditutup
Konflik berkepanjangan ini membawa korban yang tidak sedikit, para Ulama, Ustadz, guru dan para Mahasiswa dan Pelajar muslim ditangkap dan lembaga pendidikan Islam ditutup, sedangkan sekolah – sekolah yang masih berjalan.
Seorang guru muslim berumur 30 tahun juga telah dibunuh dengan tembakan di daerah Yarang, Provinsi Pattani pada Kamis 24/7/2009. Guru tersebut ditempak saat dirinya sedang mengendarai sepeda motor dalam perjalanan pulang. Bisa dikatakan guru tersebut adalah guru keseratus yang dibunuh sejak pecah kerusuhan di daerah mayoritas muslim tersebut.
Tidak hanya membunuh umat muslim dan menutup sekolah, tapi pemerintahan Thailand juga memberangus pondok pesantren yang ada di Pattani. Bagi pondok, pondok yang mau menuruti tittah pemerintah mereka akan mendapatkan kucuran dana, subsidi dan bantuan pendidikan. Pemerintah juga akan mengirim guru-guru beragama Budha untuk mengajarkan Bahasa Siam dan Ilmu-ilmu lainnya di Pondok Tersebut. Maka terjadilah asimilasi besar-besaran pada bangsa dan budaya Melayu menjadi bangsa Thai.
Tekanan demi tekanan untuk menghapuskan sistem pendidikan pondok ini tak pernah surut sampai hari ini. Pondok sering dijadikan sebagai sasaran militer Thailand. Mereka menggeledah dan memeriksa dengan paksa pondok-pondok yang dituduh menyembunyikan para pejuang Patani atau melindungi mereka. Masyarakat Patani merasa aksi kekerasan dan tuduhan yang dilakukan oleh Pemerintah Thailand ini sebagai usaha menindas hak pendidikan yang harus didapat oleh Masyarakat Patani.
Selain institusi yang menjadi serangan para pengajar di pondok, para ustadz dan juga dimasukkan sebagai daftar hitam oleh pemerintah Thailand. Mereka dituduh sebagai pejuang pembebasan Patani. Banyak Ustadz yang dikejar-kejar oleh alasan ini. Sejak 2004, banyak pula pondok yang akhirnya ditutup oleh pemerintah Thailand oleh alasan serupa. Kisah pemberangusan pondok di Patani ini bisa ditelusuri dari penutupan paksa Pondok Tuan Guru Haji Sulong al Fatani yang bernama Madrasah Al Ma’arif al Wataniyah tahun 1926. Kemudian secara massal militer Thailand memburu para guru dan Ustadz pasca unjuk rasa besar-besaran tahunn 1975.
Sejak bulan juli 2004, Undang-undang Darurat ditetapkan di Thailand Selatan. Korban akibat dari undang-undang itu dari tahun 2004-2006 sudah melebihi angka 1300 orang. Korban-koran berjatuhan mulai dari pihak Organisasi Pembebasan Patani (PULO), Mujahidin Islam Patani (MIP), Barisan Revolusi Nasional (BRN), Barisan Nasional Pembebasan Patani (BNPP), dan Front Persatuan Pembebasan Pattani (FPPP).
Di Masjid Al Furqan, yang terletak di Desa Air Tempayan, terjadi pembantaian pada tahun 2009 yang mengakibatkan tewasnya 10 orang kaum Muslimin, dan belasan lainnya luka-luka. Kejadian keji ini dilakukan di dalam Masjid, tepatnya setelah kaum Muslimin melaksanakan sholat Isya berjamaah. Kini, di depan masjid saat ini selalu dijaga oleh penduduk setempat yang dikawal pemerintah Thailand.
Sampai saat ini ratusan bahkan ribuan umat Patani masih dipenjara. Mereka di penjara akibat keikhlasan hati mereka untuk menyatakan hak dan juga kesanggupan mereka untuk perjuangkan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka yaitu sebuah Kemerdekaan Islam bagi tegaknya dienullah di Selatan Thailand.

by....cilla

ไม่มีความคิดเห็น:

แสดงความคิดเห็น